Fientje de Feniks, Pramuria Cantik di Era Kolonial yang Bernasib Tragis

Masa pemerintahan kolonial Belanda menyisakan banyak kisah yang berharga. Tidak hanya tentang kepahlawanan dan usaha meraih kemerdekaan.

Tapi juga tentang kehidupan masyarakatnya yang mencoba bertahan hidup dengan segala cara.

Mulai dari bercocok tanam, berdagang, buruh, sampai menjadi pramuria atau wanita penghibur. Ada gadis muda yang terpaksa jadi pramuria karena kondisi keluarganya.

Nama Fientje de Feniks yang baru 19 tahun cukup terkenal pada masanya sebagai salah satu wanita Batavia yang menjadi pramuria.

Parasnya yang blasteran menjadi pesona tersendiri hingga ia menjadi langganan kalangan atas. Popularitas itulah yang kemudian membawanya pada nasib tragis.

Baca juga : Al Khawarizmi, Ilmuwan Muslim Penemu Angka Nol yang Jadi Rujukan Ahli Matematika Dunia

Pesona kecantikan Fientje de Feniks terkenal di kalangan laki-laki kaya dari Belanda

(foto: wikipedia)

Ia lahir di Batavia pada tahun 1893. Tidak ada informasi tentang silsilah keluarganya yang lengkap.

Ia bukan berasal dari kalangan orang penting, tapi ia merupakan keturunan campuran Indo Belanda yang sangat cantik.

Matanya bulat, hidungnya mancung, dan rambutnya hitam panjang. Karena pesona kecantikan wajahnya, ia begitu terkenal di kalangan laki-laki kaya dari Belanda.

Di akhir usia remajanya ia sudah terjun ke dunia hiburan malam menjadi seorang pramuria. Ia mulai kerja di rumah bordil Jeanne Oort.

Penulis Pramoedya Ananta Toer mengenang sosoknya di novel Rumah Kaca (1988) dengan nama berbeda.

Fientje de Feniks digantinya jadi Rientje de Roo, sosok wanita penghibur yang punya pelanggan orang Belanda yang kaya raya.

Salah satu pelanggan ingin menjadikannya sebagai istri simpanan

Fientje de Feniks, Pramuria Paling Cantik di Era Kolonial yang Bernasib Tragis

(foto: docsplayer)

Dari sekian banyak orang yang pernah datang ke rumah bordil, ada seorang lelaki asal Belanda bernama Willem Frederick Gemser Brinkman yang menorehkan cerita penting.

Brinkman merupakan seorang warga Belanda dengan kelas sosial yang tinggi dan terbiasa datang di dalam pesta makan malam rijtstafel yang terkenal mewah.

Brinkman adalah pelanggan yang terakhir menemuinya. Bukan karena bosan dan ingin mencoba yang lain, tapi ada sebuah kejadian yang mengejutkan.

Karena terlalu sering bertemu, Brinkman mulai memiliki perasaan khusus kepadanya. Suatu malam ia ditawari oleh Brinkman untuk menjadi istri simpanan.

Tapi ia merasa enggan menerima tawaran itu dan ingin tetap jadi pramuria saja daripada menjadi istri simpanan.

Baca juga: Reconquista, Upaya Pengahapusan Pengaruh Islam di Wilayah Eropa

Akibat menolak jadi istri simpanan, Fientje de Feniks mengalami nasib kematian yang tragis

Fientje de Feniks, Pramuria Paling Cantik di Era Kolonial yang Bernasib Tragis

(foto: decanherald)

Ia sudah menolak Brinkman, lelaki kaya yang berniat mempersuntingnya.

Tampaknya penolakan membuat Brinkman sakit hati dan dendam. Diutuslah dua orang pembunuh bayaran untuk menghabisi nyawanya.

Tidak langsung dibunuh, ia dipukuli, dijerat, dimasukkan ke karung, kemudian dibuang ke sungai.

Tercatat pada tanggal 17 Mei 1912 daerah Batavia mendadak digemparkan oleh sosok jasad wanita cantik di dalam karung dalam kondisi tewas mengenaskan.

Setelah terjadi peristiwa naas di malam hari, ia mengapung dan tersangkut pada pintu air di pagi harinya. Dua tangannya masih terikat, seperti habis disiksa.

Warga Batavia dan sekitarnya sangat terkejut dengan kabar kematiannya. Itulah pertama kalinya terjadi perbuatan kriminal dengan motif percintaan di era Hindia Belanda.

Pihak berwajib di Batavia telah  melakukan penyelidikan atas kematiannya

 Pramuria Paling Cantik di Era Kolonial yang Bernasib Tragis

(foto: pinterest)

Karena dianggap sensasional, peristiwa kematiannya diceritakan dalam beragam karya, baik sejarah maupun fiksi.

Salah satu yang cukup terkenal adalah tulisan Peter van Zonneveld berjudul De Moord op Fientje de Fenicks (1992).

Kematiannya seolah jadi legenda di Batavia dan juga kalangan Melayu Tionghoa. Pihak berwajib (Raad van Justitie) tidak tinggal diam setelah kematiannya.

Peristiwa pembunuhan yang dilakukan Brinkman berhasil diselidiki. Sebagai tersangka pembunuhan, Brinkman pun ditangkap lalu dipenjara dengan vonis hukuman mati.

Rosihan Anwar menuliskan kisahnya di dalam Sejarah Kecil Petite Histoire Indonesia Vol. 1 (2004) bahwa Brinkman tidak percaya kalau seorang berkulit putih yang berpengaruh besar boleh mengorbankan nyawa sendiri karena seorang wanita penghibur pribumi.

Karena tertekan Brinkman pun bunuh diri di sel sebelum dieksekusi.